Hukum Suap Menyuap Menurut Syariat Agama Islam

Suap menyuap sudah menjadi budaya yang menjalar di setiap segmen kehidupan bermasyarakat, sejak dari tingkatan yang paling bawah dengan nilai puluhan ribu rupiah hingga miliaran bahkan triliunan rupiah. Wilayah yang biasa ditumbuhi kebiasaan suap menyuap dengan subur adalah lapangan pekerjaan. Banyak kita dengar bahwa dalam penerimaan pegawai baik swasta maupun negeri terjadi suap menyuap atau sogok menyogok dengan tujuan agar si pelamar dapat diterima bekerja di tempat yang bersangkutan. Sebagai seorang muslim tentunya kita harus tahu seperti apa rambu-rambu agama yang terkait dengan kegiatan suap menyuap ini.

Islam secara tegas mengharamkan suap atau sogok, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah melaknat penyuap dan orang yang disuap.” (HR. Tirmidzi)
Allah subhanahu wa ta’ala pun berfirman:
“Mereka sangat suka mendengar berita bohong, banyak memakan makanan yang haram.” (QS. Al Maidah: 42)
Menurut Umar bin Khatab dan Abdullah bin Mas’ud yang dimaksud dengan makanan haram tersebut dalam ayat adalah makanan hasil suap menyuap. Kedua belah pihak baik penyuap maupun penerima suap telah dilaknat Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, hukum suap adalah haram. Jika demikian bagaimana dengan orang yang melamar pekerjaan melakukan praktek suap saat mereka diterima di pekerjaan itu? Apakah gaji yang mereka terima dapat dikatakan halal? Bagaimana hukumnya? Apa yang dilakukan jika si pelamar telah terlanjur bekerja di tempat tersebut?

Para ulama memerinci masalah ini berdasarkan bentuk praktek yang terjadi di lapangan. Pemberi sejumlah uang saat melamar sebuah pekerjaan baik negeri maupun swasta dapat dibagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah orang yang tidak berhak atas pekerjaan yang dilamarnya karena tidak memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan. Misalnya seorang lulusan S1 memberikan sejumlah uang, jasa, atau benda agar diterima menjadi pegawai padahal syaratnya adalah lulusan S2.

Kelompok pertama ini jelas melakukan perbuatan yang diharamkan karena memberikan suap untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya dan ini merampas hak orang lain atau menzalimi orang lain. Bila benar-benar diterima bekerja maka mereka tidak berhak menerima gajinya. Lalu bagaimana jika dia ingin bertaubat?

Jika yang bersangkutan ingin bertobat menurut sebuah fatwa dari fatwa tarji maka dia harus menyesali perbuatannya itu, berjanji tidak akan mengulanginya lagi, memohon ampun kepada Allah, lalu melepaskan jabatannya itu, dan mencari pekerjaan lain yang memberinya upah atau gaji yang halal.

Adapun orang yang sebenarnya berhak atas pekerjaan tersebut karena telah memenuhi syarat-syaratnya namun masih harus diseleksi untuk menentukan siapa yang diterima kemudian memberikan sogokan agar bisa mengalahkan pesaing-pesaingnya sebelum keputusan penerimaan, maka dia juga telah melakukan perbuatan haram. Namun bila benar-benar diterima kerja, dia tetap berhak menerima gaji karena telah bekerja sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tetapi tetap berdosa karena cara masuknya menzalimi orang lain dengan menyuap. Jika yang bersangkutan ingin bertaubat, maka harus menyesali perbuatannya itu, berjanji tidak akan mengulanginya, memohon ampun kepada Allah, dan bekerja sebaik-baiknya sesuai dengan aturan yang ada.

Berbeda halnya dengan orang yang sebenarnya telah memenuhi syarat dan lulus seleksi, namun haknya ditahan oleh panitia dan tidak bisa diperoleh kecuali dengan membayar uang dalam jumlah tertentu, maka menurut sebagian ulama dia tidak berdosa. Dalam kasus ini, hanya penerima suap saja yang menanggung dosanya. Orang tersebut justru menjadi korban pemerasan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bila benar-benar mereka diterima kerja maka berhak menerima gajinya dan gaji itu pun halal.

Akan tetapi bila memiliki iman yang kuat dan mengedepankan sikap tawakal kepada Allah sehingga menolak untuk memberikan uang suap, maka itulah yang lebih baik dan Insya Allah akan diganti dengan sumber rezeki yang lebih baik oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa di bumi) melainkan semuanya dijamin rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Hud: 6)
Ibnu Qayyim berkata fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, jangan menyibukkannya dengan rezeki yang dijamin untukmu, karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin. Selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah dengan kebijaksanaan-Nya hendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti dengan rahmat-Nya membuka jalan lain yang bermanfaat.