Hukum Mendirikan Bangunan Di Atas Makam Menurut Syariat Agama Islam

Di tanah air, kita banyak sekali menemukan pemakaman yang di atasnya dibuat bangunan, padahal di pemakaman Baqi tempat para sahabat nabi dan keluarga nabi dimakamkan tidak ada apa-apa di tempat itu. Sebenarnya bagaimana syariat mengatur soal bangunan di atas makam?

Pemakaman di wilayah Baqi, Madinah Al Munawarah ini tampak sederhana tak ada kesan seram bahkan secara umum tampak bukan pemakaman, karena tak ada batu nisan yang menjadi ciri dari pemakaman yang dikenal di tanah air, padahal di tempat inilah sosok-sosok besar para perintis penyebar Islam di seluruh dunia dimakamkan. Para sahabat mulia dan para keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan dimakamkan di tempat ini.

Sebaliknya, pemandangan pemakaman umum di tanah air justru menyisakan aura berbeda, pemakaman selalu identik dengan batu nisan yang berjejer bahkan tak jarang dibangun di atasnya bangunan khas makam. Di beberapa tempat bahkan ada yang dibangun rumah-rumahan. Lantas bagaimana sebenarnya aturan makam dalam syariat agama? Apakah makam itu memang harus diberi batu nisan dan memperindahnya?

Para ulama sepakat bahwa sekedar memberikan nisan sebagai tanda adanya kuburan seseorang di bawahnya hukumnya boleh tanpa disemen, tanpa diberi nama, tanpa dibangun apapun di atasnya. Namun yang menjadi masalah adalah jika batu nisan itu diberi nama almarhum atau almarhumah pemilik kuburan.

Menurut madzhab Maliki jika menulis di nisan dengan tujuan untuk bermegah-megahan maka hal itu haram hukumnya secara mutlak. Asy Syaukani dan Adz Dzahabi mengharamkan menulis nisan baik ditulis nama mayit maupun tulisan lainnya. Sebagaimana yang diriwayatkan Jabir radhiyallahu anhu bahwa:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengapur kuburan, mendudukinya, membangun, dan menulis di atasnya .“ (HR. Ibnu Majah dan An Nasa’i)
Menurut mereka jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis nama pada batu nisan di makam Usman bin Mas’ud maka ini dianggap sebagai pengecualian karena yang dimaksud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk mengenalinya. Adz Dzahabi berkata:
“Kami tidak mengetahui seorang pun sahabat yang melakukan hal itu. Tradisi ini dibuat-buat oleh sebagian tabi’in dan orang-orang setelah mereka sementara hadist larangan belum sampai kepada mereka.”
Sedangkan menurut madzhab Syafi’i, Hanbali, dan sebagian ulama madzhab Maliki hukumnya makruh secara mutlak. Adapun menurut madzhab Hanafi dan salah satu pendapat madzhab Syafi’i mengatakan boleh menggunakan nisan jika memang dibutuhkan untuk penamaan kuburan agar menjadi tanda pengenal.

Syeikh Nashirudin Al Albani dalam kitab Ahkamul Janaiz mengatakan jika seperti yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengenalinya karena jumlah kuburan dan bebatuan terlalu banyak maka boleh menulis nama di batu nisan sekedar untuk mengenalinya. Wallahu a’lam.

Syeikh Nashirudin Al Albani juga mengatakan dibolehkan menamai nisan sekedar untuk mengenalinya bukan untuk dihias, diukir dan diperindah, sebab jangankan dihias ditinggikan saja tidak boleh. Hal itu sebagaimana hadist Abu Thalib radhiyallahu anhu:
“Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutusku: ‘Hendaklah kamu jangan meninggalkan gambar-gambar kecuali kamu hapus, dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan’.” (HR. Muslim)
Diriwayatkan juga dari Fadlalah bin Ubaid radhiyallahu anhu, ia berkata:
“Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meratakannya (kuburan).” (HR. Muslim)
Lantas bagaimana hukumnya jika di atas makam itu atau di sekelilingnya dibangun sesuatu?

Perihal meninggikan kuburan dengan memplesternya dengan semen kemudian membuatnya menjadi permanen atau membangun sebuah bangunan, entah itu sebuah kamar atau kubah di atasnya, adalah perkara yang telah disepakati oleh ulama empat madzhab bahwa hukumnya makruh. Tidak ada satu madzhab pun yang menetapkan hukumnya mencapai tingkat haram. Hal ini berdasarkan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk meninggikan, memplester kuburan dan membangun di atasnya sebuah bangunan.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat Imam Tirmidzi ada tambahan:
“Dan juga dilarang untuk menuliskan sesuatu di atasnya”. (HR. Tirmidzi)
Mungkin menjadi pertanyaan dalam redaksi hadistnya itu ada pelarangan, dan pelarangan dalam teks syariat itu mengandung sebuah keharaman. Kenapa para ulama tidak mengharamkan praktek semacam ini, alasannya bahwa memang ada pelarangan untuk itu akan tetapi umat ini telah berijma dan bersepakat atas kebolehannya menguburkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah kamar yaitu kamar A’isyah radhiyallahu anha dan tidak ada satupun ulama yang menyanggahnya.

Kalaupun ini dilarang pastilah ada yang menyanggahnya, jadi pelarangan yang ada dalam redaksi hadist itu telah dibalikkan menjadi sebuah kemakruhan saja. Artinya jika ditinggalkan akan menjadi pahala dan jika pun dikerjakan tidak apa-apa. Hukum makruh ini berlaku jika dilakukan di pemakaman lahan pribadi akan tetapi jika mendirikan bangunan di atas makam itu dilakukan di pemakaman umum, maka ulama empat madzhab sepakat hukumnya haram.

Imam Taqiyudin dari kalangan Hanbali bahkan mengatakan bahwa yang mendirikan bangunan di makam yang berada di pemakaman umum itu ghozib (merampas hak orang lain). Oleh karena itu, dalam madzhab Syafi’i dan Maliki, bangunan yang di atas kuburan itu harus dihancurkan.