Hukum Memakai Obat Penumbuh Jenggot Dan Krim Pemutih Kulit Menurut Syariat Islam

Bagi kebanyakan kaum muslimin, memelihara jenggot bukanlah sekedar memenuhi tuntutan modis atau sekedar buat gaya-gayaan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam teladan terbaik umat Islam adalah seorang laki-laki yang berjenggot hingga akhir hayatnya. A’isyah radhiyallahu anha menuturkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Ada sepuluh macam fitrah, yaitu: memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja atau cebok dengan air." (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk memelihara jenggot dalam arti membiarkan jenggot itu tumbuh dan tidak memangkasnya. Lalu bagaimana jika terdorong oleh Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang yang tidak berjenggot ingin memiliki jenggot dengan cara memakai obat-obatan penumbuh jenggot?

Pertama, sikap yang wajib dilakukan oleh seorang muslim adalah ridho terhadap segala takdir yang telah ditetapkan Allah azza wa jalla bagi dirinya. Kemudian menyusahkan dan membebani diri dengan melakukan tindakan yang sebenarnya tidak diperintahkan. Allah azza wa jalla berfirman:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al Baqarah: 286)
Sudah menjadi kehendak Allah azza wa jalla menciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna dalam variasi postur dalam warna kulit untuk membedakan antara satu dan lainnya. Ada sebagian yang tumbuh rambut jenggotnya, ada juga yang tidak tumbuh, sebagian lain hanya tumbuh tipis. Tumbuh dan tidaknya rambut jenggot adalah hal yang alami berdasarkan kehendak Allah azza wa jalla. Allah azza wa jalla berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At Tiin: 4)
Sehingga harus dipahami bahwa pada dasarnya tidak tumbuhnya jenggot bukan berarti berdosa karena meninggalkan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak tumbuhnya jenggot juga bukan aib yang harus ditutup-tutupi.

Kedua, jika tidak tumbuhnya jenggot itu menjadikan seseorang muslim tidak nyaman atau sangat ingin mendapatkan pahala sunnah  memanjangkan jenggot atau menjadi aib dalam kondisi tertentu, maka dia boleh menggunakan obat penumbuh jenggot yang benar-benar sudah pasti manfaat, halal kegunaan serta tanpa efek samping yang merugikan.

Saat membahas topik hukum obat untuk memanjangkan rambut jenggot yang sebelumnya kurang dari ukuran genggaman tangan, Ibnu Nujaim salah satu ulama mazhab Hanafi menyebutkan bahwa dibolehkan menggunakan obat oles atau krim penumbuh rambut jika tujuannya bukan untuk bergaya atau bepergian, sebab itu akan berfungsi sebagai  pewarna rambut namun tidak perlu digunakan untuk memanjangkan  rambut jenggot jika panjangnya telah mencapai ukuran yang disunnahkan atau segenggam tangan.

Hal ini diperkuat oleh keterangan salah seorang ulama kontemporer bahwa menggunakan obat penumbuh rambut jenggot atau rambut kepala boleh dilakukan dan ini tidak termasuk kategori tindakan merubah ciptaan Allah azza wa jalla. Syaratnya penggunaan krim tersebut tidak menimbulkan efek samping yang merugikan. Wallahu a’lam.

Ulama kontemporer lainnya menegaskan jika jenggot tidak tumbuh karena masalah usia atau gen bawaan, maka tidak dianjurkan untuk menggunakan obat dan sebaiknya dibiarkan tumbuh alami. Jika jenggot tumbuh sedikit dan pertumbuhannya tidak rata sehingga jika dipelihara tampak tidak rapi dan teratur sebaiknya dibiarkan saja. Tapi jika memang dengan pertumbuhan seperti itu dipandang sebagai aib, maka boleh menggunakan obat sehingga bagian kosong dari jenggot bisa tumbuh jenggotnya.

Masih terkait dengan penggunaan obat-obatan, bagaimana  dengan penggunaan krim pemutih kulit yang belakangan ini banyak diminati oleh kaum hawa dan sebagian kaum pria? Apakah dengan menggunakan krim pemutih yang bisa merubah warna kulit ini dibenarkan dalam syariat agama?

Ulama kontemporer menjelaskan proses pemutihan kulit ada dua macam, pertama yakni supaya lebih sempurna tambah bagus dan cantik. Inilah yang tidak dibenarkan dalam syariat agama, karena termasuk merubah ciptaan Allah. Hal ini sama dengan praktek men-tato yang mendatangkan laknat bagi pelakunya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
"Allah melaknat para wanita yang men-tato, para wanita yang minta di-tato, para wanita yang mencabut alisnya, para wanita yang minta dicabut alisnya, para wanita yang minta direnggangkan gigi-giginya, para wanita yang merubah ciptaan Allah."
Proses kedua penggunaan krim pemutih ini dimaksudkan menghilangkan aib dan cacat seperti noda hitam pada tangan dan lainnya lalu dia berusaha menghilangkannya. Inilah yang dibolehkan karena termasuk menghilangkan aib. Wallahu a’lam.