Pernikahan Karena Pengaruh Pelet

Demi mendapatkan wanita idaman, terkadang ada saja orang yang menempuh berbagai cara termasuk dengan datang ke orang pintar, meminta amalan tertentu atau jimat tertentu yang lebih populer dikenal dengan ilmu pelet kemudian digunakan untuk menaklukkan hati wanita yang menjadi incarannya meski memang ada yang tidak berhasil tapi juga banyak yang berhasil menaklukkan hati wanita hingga berlanjut ke jenjang pernikahan.

Bacaan Dzikir Yang Ringan Diucapkan Tapi Berat Di Timbangan

Dalam Islam, ada amalan-amalan yang sebenarnya ringan dilakukan tapi memiliki bobot pahala yang luar biasa. Amalan seperti apakah itu?

Melamar Wanita Yang Sudah Dilamar Orang Lain

Di masyarakat sudah banyak terdengar ungkapan “Selama janur kuning belum melengkung, pantang untuk menyerah” artinya sebelum wanita itu dinikahi oleh laki-laki lain, bagi seorang laki-laki jalan masih terbuka untuk mendapatkannya. Sementara ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan tidak boleh seorang muslim melamar wanita yang sudah dilamar oleh orang lain. Akan tetapi pertanyaannya, bukankah wanita itu baru dilamar orang dan belum dinikahi secara sah? Bukankah dalam kondisi ini boleh dipinang?

Berpura-Pura Menjadi Orang Munafik

Berpura-pura baik padahal hatinya benci hanya untuk menghancurkan orang lain. Berpura-pura shalih padahal hatinya jahat. Kepura-puraan itu dimaksudkan untuk menjatuhkan lawannya dan masih banyak perilaku seperti ini yang banyak kita temui di masyarakat sekitar kita. Inilah praktek kemunafikan yang sangat dibenci Allah subhanahu wa ta’ala.

Hal-Hal Membingungkan Yang Kadang Terjadi Dalam Shalat Berjamaah

Dalam ibadah shalat, terkadang terjadi hal-hal yang membingungkan makmum dan terkadang imam sendiri yang bingung. Lalu apa yang harus dilakukan?

Aurat imam terbuka

Dalam shalat berjamaah, makmum melihat aurat imam terbuka dari belakang ketika shalat berlangsung bisa jadi karena bajunya robek atau terlalu ketat sehingga tertarik, apa yang harus dilakukan makmum?

Dalam kondisi semacam ini ulama kontemporer menjelaskan ada dua cara yang bisa dilakukan makmum:
  1. Jika memungkinkan, makmum maju kemudian membenahi pakaian imam, atau menutupinya dengan kain yang lain.
  2. Makmum boleh membatalkan shalatnya dan keluar dari jamaah kemudian mengingatkan imam. 
Makmum yang mengetahui aurat imam terbuka tidak boleh diam saja dan tetap melanjutkan shalat karena dia mengetahui bahwa shalatnya imam tidak sah dengan terbukanya aurat sehingga bermakmum di belakangnya juga tidak sah. Wallahu a’lam.

Imam tiba-tiba ingat dia belum wudhu

Kasus lain yang terkadang membuat bingung dalam shalat berjamaah yaitu kondisi ketika shalat berjamaah sedang berlangsung tiba-tiba imam teringat bahwa dia belum berwudhu atau bersuci. Apa yang harus dilakukan?

Dalam kondisi seperti ini, ada tiga cara yang bisa dilakukan imam:
  1. Ia membatalkan shalat, keluar dari jamaah dan menunjuk salah seorang di belakangnya untuk menggantikan posisinya sebagai imam hingga shalat selesai. Sebagaimana terdapat riwayat dari Umar, Ali, Alqamah dan Atha diantaranya adalah riwayat dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwa setelah dia ditikam Abdullah bin Saba, Umar memegang tangan Abdurrahman bin Auf dan menyuruhnya untuk menggantikan posisinya. Hadits ini diriwayatkan Bukhari. Tindakan Umar ini dilakukan di depan para sahabat dan tidak ada satupun yang mengingkarinya sehingga dihukumi sebagai kesepakatan mereka.
  2. Imam boleh membatalkan shalat dan tidak menunjuk pengganti, kemudian masing-masing makmum shalat sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i.
  3. Imam menyuruh makmum untuk diam ditempat tanpa membatalkan shalat, kemudian imam bersuci lalu kembali ke tempat semula dan melanjutkan shalat berjamaah. Ini berdasarkan hadits dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami sahabat shalat shubuh, tiba-tiba beliau berisyarat kepada para sahabat agar tetap berada di tempatnya kemudian beliau pergi lalu beliau kembali sementara kepalanya meneteskan air dan beliau shalat jamaah bersama mereka. (HR. Abu Dawud) Terkait dengan hadits ini, Imam Abu Dawud menuliskan bab tersendiri dengan tema “Bab orang junub mengimami shalat berjamaah karena lupa.” Menjelaskan hadits ini Imam Al Khattabi mengatakan hadits ini bisa menjadi dalil bahwa jika ada imam yang shalat dalam keadaan junub sementara makmum tidak tahu bahwa imam junub maka shalatnya tetap dilanjutkan dan tidak wajib diulangi. Sedangkan imam wajib mengulangi shalatnya. Wallahu a’lam.

Imam lupa ayat yang dibaca dan makmumnya tidak mengingatkan karena tidak hapal

Selain itu, masih ada kasus lain yang terkadang membingungkan dalam shalat berjamaah adalah jika imam lupa salah satu ayat yang ia baca, sementara tidak ada satupun makmum yang mengingatkannya karena makmum juga tidak hapal. Apa yang harus dilakukan? Menghentikan bacaan lalu ruku’ atau mengganti bacaan surahnya?

Ulama kontemporer menjelaskan, jika imam lupa bacaan ayatnya selain Al Fatihah maka imam bisa melakukan beberapa pilihan. Imam boleh menghentikan bacaannya dan langsung ruku’ atau boleh juga mengganti ayat atau surah lain. Akan tetapi jika yang terlupa adalah bacaan Al Fatihah maka wajib dibaca semuanya dan tidak boleh ada yang salah atau lupa karena membaca Al Fatihah merupakan rukun shalat dan shalat tidaklah sah jika rukunnya tertinggal.

Makmum lupa atau salah membaca Al Fatihah

Lalu bagaimana jika yang lupa bukan imam tapi makmum lupa membaca Al Fatihah atau salah dalam membaca Al Fatihah? Padahal tidak mungkin ada yang mengingatkan.

Dalam kondisi demikian shalatnya makmum tetap sah selama dia berjamaah bersama imam yang shalatnya sah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu yang ikut bergabung ke dalam jamaah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang ruku’ dan dia tidak membaca Al Fatihah, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya,
“Semoga Allah menambahkan semangatmu dan jangan diulangi!” (HR. Bukhari)
Ucapan Nabi kepada Abu Bakrah ini maksudnya adalah jangan diulangi sikap buru-buru karena Abu Bakrah datang sambil berlari untuk mengejar ruku’nya imam. Berdasarkan hadits ini, mayoritas ulama menegaskan jika makmum lupa membaca Al Fatihah atau tidak bisa membacanya atau dia mulai ikut shalat berjamaah ketika imam sedang ruku’ maka dalam kondisi ini shalatnya sah dan tidak perlu diulangi karena dia tidak tahu atau lupa. Wallahu a’lam.

Apa Untungnya Kita Mendoakan Orang Lain?

Seorang muslim tidak boleh egois, hidup sendiri tanpa mempedulikan nasib orang lain. Sebaliknya, dia harus menolong, membantu, dan meringankan beban saudara-saudaranya sesama muslim.

Menyebut-Nyebut Amal Shalih Dirinya Sendiri Kepada Orang Lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada fitnah Al Masih Ad Dajjal?” Para sahabat berkata “Tentu saja.” Beliau bersabda “Syirik Khafi (yang tersembunyi) yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan shalat dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR. Ahmad)
Inilah bahaya riya, sebuah perbuatan amal shalih yang dilakukan bukan dimaksudkan untuk meraih ridha Allah tapi lebih dimaksudkan untuk meraih simpati manusia.